DINDING

DINDING
Oleh : Cahyo Nayaswara

Jakarta sibuk

Jakarta mencari

Jakarta mengais

semua cara dihalalkan

semua upaya dilegalkan

 

hukum hanyalah permainan petak umpet

antara dalil ayat dan pasal-pasal

 

politik hanyalah permainan keserasian

antara corak, warna, model dan gaya

 

Agama, hanyalah permainan perayaan

antara per-ingat-an dan per-ibadat-an

antara amal, pahala dan dosa

antara keyakinan dan aturan moral

agar hidup ini tertata dan teratur

sekalipun dalam sekat-sekat keberagamannya

 

apakah yang terjadi

jika sekat keberagaman itu dicabut

kemudian manusia tunduk dan sepakat

dalam satu iman

dalam satu paham

dalam satu Tuhan ?

 

sekat itu adalah dinding besi

yang mengantarai dua buah gunung

dicor dengan tembaga panas yang dituangkan

oleh Zulkarnain nabi Allah

kemudian dia berkata :

“bila waktunya telah tiba

maka Tuhanku akan meluluhkan dinding ini

reruntuhannya akan menghimpit

ya’juj wama’juj ke dasar perut bumi

karena dia suka bermusuh-musuhan

kemudian Tuhanku akan mempersatukan kalian

lalu menaungi kalian kembali

karena Dia telah memisah-misahkan kalian

dalam sekat-sekat agama

dan aliran-aliran kepercayaan

 

Tuhanku akan mendekatkan diriNya pada kalian

karena sejak dulu Ia selalu jauh

dan sengaja menjauhi kalian

 

Tuhanku maha suci

karena kesucian nama-Nya sehingga

Dia bersembunyi di dalam Allah

Dialah inti daripada Allah

Dialah Tuhan di dalam zat Allah

Dialah pemilik sifat-sifat Allah

Dialah pemilik cahaya-cahaya Allah

Dialah Tuhan yang memiliki sebuah nama

nama Tuhanku adalah AL-HIDIR

 

Dia akan merubuhkan dinding tembaga ini

Dia akan mempersatukan umat manusia

Dia akan membuktikan secara nyata

di hadapan kita semua bahwa

Dialah Tuhan Semesta Alam

Pencipta dan Pemilik segalanya

Dialah Tuhan yang sebenar-benarnya

Dialah Tuhan yang selama ini disembah

dan dipuja oleh semua agama-agama

dengan segala ritual dan tata cara peribadatan yang berbeda

namun tujuannya hanyalah Satu

Yaitu ; Tuhan kita AL Hidir”.

 

 

 

Jakarta, 01 Juni  2012

catatan:

Cahyo Nayaswara biasa disapa mas Cahyo adalah seniman dan budayawan muslim yang tergabung dalam HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam) yang berkantor pusat di Lantai Dasar Mesjid Istiqlal Jakarta. Aktif menulis puisi terutama puisi-puisi yang bertema religius. Setelah mas Cahyo membaca secara seksama dan berulang-ulang GERAKAN ALMAHDI, mas Cahyo  terinspirasi membuat puisi religius yang berjudul “dinding”. Mas Cahyo berniat akan menulis dan terus menulis, karena GERAKAN ALMAHDI  telah membuka cakrawala berfikir kritis mas Cahyo dalam mencari kebenaran sejati. Mas Cahyo membuka diri dan ingin sharing pendapat kepada siapapun yang telah membaca GERAKAN ALMAHDI. Pengetahuan kita pada hakekatnya sama karena kita sama-sama tidak tahu siapa nama penulis GERAKAN ALMAHDI. Beliau adalah penulis yang penuh dengan misteri kalau tidak ingin dikatakan sebagai penulis yang menyembunyikan dirinya. GERAKAN ALMAHDI memang telah member hikmah yang luar biasa kepada Mas Cahyo. Sangat banyak pengetahuan dan pelajaran berharga yang Mas Cahyo bisa ambil setelah membaca GERAKAN ALMAHDI. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmatNya dan mencurahkan kasih-sayangNya kepada penulis GERAKAN ALMAHDI. Amin.

Iklan