SANGGAHAN KRITIS UNTUK PENGIKUT AHMADIYAH

 

 

 

SANGGAHAN KRITIS UNTUK PENGIKUT AHMADIYAH
Oleh: Cahyo Nayaswara
 
 Tiba-tiba saja nama Ahmadiyah muncul kembali dalam fikiran saya. Ini disebabkan karena saya membacaKoran lama yang memberitakan  sekelompok orang yang mengatasnamakan Gerakan Umat Islam, melakukan penyerangan terhadap kampus pusat Ahmadiyah, Barokah , BogorJawa Barat tanggal 09 Juli 2005 yang lalu. Penyerangan ini didasari oleh adanya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 1980 yang memfatwakan bahwa ajaran Ahmadiyah adalah ajaran sesat yang menyesatkan.
 
Ahmadiyah didirikan di Qadian pada tahun 1889, desa kecil di Punjab India (sekarang masuk dalam wilayah negara Pakistan) oleh seorang muslim bernama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908). Pada usia 41 tahun dia mengaku bermimpi mendapatkan wahyu, kemudian ia mendakwakan dirinya sebagai imammahdi dan almasih. Setelah Mirza Ghulam Ahmad meninggal, gerakan ini dipimpin oleh khalifah al masih secara berturut-turut mulai dari khalifatulmasih I s/d V. Khalifatulmasih tidak akan diganti sebelum yang bersangkutan meninggal dunia. Khalifatulmasih berkedudukan dan berkantor pusat di London. Mereka adalah warga negara Inggris keturunan India-Pakistan.Ahmadiyah  Qadian sudah ada di 174 negara tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, dan Eropa dengan jumlah pengikut sekitar 170 juta orang. Andaikan saja MUI tidak mengeluarkan fatwa yang tegas 32 tahun yang lalu boleh jadi gerakan ini akan berkembang sangat pesat di Indonesia.
 
Khalifatulmasih memiliki sistem organisasi yang terstruktur rapi dan berjenjang. Pola rekrutmen anggota melalui pendekatan person to person dengan metode debat dan diskusi. Kitab-kitab yang mereka gunakan umumnya berbahasa urdu dan Inggris. Mereka merubah ayat-ayat kitab suci Alqur’an, khususnya pada ayat-ayat yang menguntungkan dan mendukung aliran mereka.
 
Perbedaan yang sangat mendasar antara ahlussunnah wal jamaah dengan ahmadiyah qadian adalah karena orang-orang ahmadiyah memahami, meyakini, dan mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai imam mahdi dan almasih sementara di kalangan Islam masih sebatas menantikan kedatangan sosok sang imam dan pemimpin ummat manusia tersebut.
 
 
Imam Mahdi dan Almasih adalah sosok yang fenomenal dan penuh dengan misteri karena itu sejak dulu sangat banyak orang yang terjebak, terperangkap, dan terperosok dalam ketersesatan yang nyata. Satu diantaranya adalah Mirza Ghulam Ahmad. Bisa saja dia mengklaim diri dia sebagai Imam Mahdi dan Almasih, namun betapa bodohnya kita jika ingin mempercayainya. Mengapa kita tidak memakai logika dan akal sehat kita untuk mengkritisi pengakuan dia sebelum kita ikut juga dia sesatkan. Jika benar Mirza Ghulam Ahmad adalah Imam Mahdi, peperangan apakah yang dia pimpin ?. jika tidak ada perang yang dia pimpin berarti Mirza bukanlah Imam Mahdi. Jika benar dia adalah Almasih, mengapa ketika dia wafat (1908) dunia ini tidak kiamat, malah sebaliknnya, dunia dengan segala peradabannya justru berkembang pesat. Bisa saja kita berargumentasi bahwa ada khalifah pengganti untuk melanjutkan missinya, tapi perlu diingat ketika Almasih naik ke langit, beliau tidak menunjuk khalifah pengganti untuk meneruskan missinya itu berarti Almasih yang sebenarnya yang akan turun nantinya juga tidak memiliki khalifa pelanjut.
 
Tegasnya ; mimpi Mirza Ghulam Ahmad mendapatkan wahyu bukanlah mimpi akan tetapi sebuah halusinasi saja sebagai dampak dari candu atau ganja yang dihisapnya mengingat di masa itu tanaman ganja sebagai tanaman semak liar tumbuh subur di daerah pegunungan Pakistan, terus memanjang hingga masuk ke wilayah Afghanistan.
 
Semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat dan sebagai bahan renungan terutama kepada orang Islam yang sudah terperangkap ke dalam jaringan jamaah Ahmadiyah. Dan bagi anda yang ingin lebih dalam mengetahui wahyu Allah yang benar yang diturunkan dalam bentuk mimpi kepada beberapa rasul pilihan-Nya maka bacalah dengan seksama GERAKAN ALMAHDI.
 
Sumber inspirasi / bahan bacaan :
GERAKAN ALMAHDI (Nama penulis tidak diketahui)
Oleh: Cahyo Nayaswara